Lembaga Sosial Rumah Indonesia
Lembaga Sosial Rumah Indonesia

Lembaga Sosial Rumah Indonesia

Hubungi Kami

Membangun Budaya Sekolah Bersih, Indah, Tertib, dan Nyaman melalui Pengabdian di SMP Negeri 93 Jakarta

Membangun Budaya Sekolah Bersih, Indah, Tertib, dan Nyaman melalui Pengabdian di SMP Negeri 93 Jakarta

Foto bersama tim pengabdian dan peserta

Jakarta- Lingkungan sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi ruang penting dalam membentuk kebiasaan, karakter, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab warga sekolah. Lingkungan yang bersih, indah, tertib, dan nyaman dapat menciptakan suasana belajar yang lebih mendukung sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim pengabdian yang diketuai oleh Prof. Dr. Wahyu Sri Ambar Arum, M.A., bersama tim dosen dan mahasiswa FIP Universitas Negeri Jakarta melaksanakan kegiatan “Pemeliharaan Lingkungan Sekolah dalam Mewujudkan Budaya Bersih, Indah, Tertib, dan Nyaman di SMP Negeri 93 Jakarta.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 5 Juni 2026, di SMP Negeri 93 Jakarta, Jalan Gunung Sahari Raya No. 81, Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat. dilaksanakan dalam bentuk workshop dan pendampingan. Kegiatan melibatkan pimpinan sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta tim pengabdian dan mahasiswa.

Mengubah Kebersihan Menjadi Sistem Kerja

Selama ini, pemeliharaan lingkungan sekolah sering kali dipahami sebatas kegiatan membersihkan ruangan atau membuang sampah. Padahal, lingkungan sekolah memiliki berbagai area dengan karakteristik dan kebutuhan pemeliharaan yang berbeda. SMP Negeri 93 Jakarta memiliki berbagai fasilitas dan area, mulai dari ruang kelas, toilet, kantin, koridor, halaman, taman, lapangan, hingga area parkir. Masing-masing membutuhkan perhatian dan indikator pemeliharaan yang berbeda. Ruang kelas misalnya, membutuhkan perhatian terhadap kerapian meja dan kursi, papan tulis, ventilasi, pencahayaan, dan tempat sampah. Sementara toilet membutuhkan pemantauan terhadap ketersediaan air, kebersihan lantai, bau, serta fungsi fasilitas.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemeliharaan lingkungan sekolah membutuhkan sistem yang lebih terencana. Bukan hanya siapa yang membersihkan, tetapi juga siapa yang bertanggung jawab, kapan kegiatan dilakukan, apa yang harus diperiksa, dan bagaimana hasilnya ditindaklanjuti. Melalui kegiatan pengabdian ini, pemeliharaan lingkungan diperkenalkan sebagai bagian dari tata kelola sekolah. Pendekatan yang digunakan menggabungkan pembagian zona, pembagian peran, indikator yang dapat diamati, serta monitoring secara berkala.

Workshop yang Tidak Hanya Berisi Materi

Workshop dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak mengidentifikasi permasalahan lingkungan sekolah dan menerjemahkannya ke dalam rancangan program yang dapat diterapkan. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, tanya jawab, demonstrasi, diskusi kelompok, simulasi, praktik pengisian lembar kerja, presentasi hasil, serta pendampingan langsung. Peserta diarahkan untuk menentukan masalah, area atau zona, kegiatan yang perlu dilakukan, penanggung jawab, jadwal, indikator keberhasilan, dan bukti pelaksanaan.

Suasana workshop berlangsung secara interaktif. Materi disampaikan menggunakan layar interaktif, kemudian peserta berdiskusi dan mengerjakan lembar kerja secara berkelompok. Tim dosen dan mahasiswa juga memberikan pendampingan kepada kelompok yang membutuhkan penjelasan tambahan. Keterlibatan sekolah menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini. Guru dan tenaga kependidikan tidak hanya menjadi peserta, tetapi ikut menyusun rancangan pemeliharaan berdasarkan kondisi nyata di lingkungan sekolah. Dengan demikian, perangkat yang dihasilkan tidak disusun sepihak oleh tim pengabdian, tetapi dikembangkan bersama dengan pihak sekolah.

Dari “Sekolah Bersih” Menjadi Target yang Terukur

Salah satu hal yang ditekankan dalam workshop adalah pentingnya mengubah target yang masih bersifat umum menjadi indikator yang dapat diamati. Misalnya, istilah “toilet bersih” tidak cukup hanya menjadi slogan. Dalam perangkat monitoring, kondisi tersebut dapat diterjemahkan menjadi beberapa indikator, seperti lantai tidak licin, air tersedia, toilet tidak berbau, tempat sampah tidak penuh, dan fasilitas dapat digunakan dengan baik.

Pendekatan tersebut membantu sekolah melihat kondisi lingkungan secara lebih objektif. Ketika ditemukan masalah, sekolah dapat menentukan tindakan korektif dan memantau apakah masalah tersebut telah diselesaikan. Untuk mendukung hal tersebut, tim pengabdian memperkenalkan instrumen ceklis monitoring berbasis zona. Ceklis disusun untuk beberapa area, antara lain kelas, koridor atau tangga, toilet, kantin, halaman, taman, dan area parkir. Hasil monitoring selanjutnya dapat direkap secara berkala untuk menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut.

Mulai Terbentuk Perangkat Pemeliharaan Lingkungan Sekolah

Pelaksanaan workshop menghasilkan sejumlah output awal. Selain materi workshop mengenai budaya tertib dan nyaman, tersedia bahan kerja yang memuat program, zonasi, pembagian peran, ceklis monitoring, rekap, dan tindak lanjut. Tim juga memberikan contoh program yang lebih spesifik dan terukur, seperti piket kelas, pemantauan toilet dua kali, kegiatan Jumat Bersih, dan pengelolaan kantin sehat.

Pada tahap kemajuan, workshop telah terlaksana dan materi serta bahan kerja telah digunakan. Instrumen monitoring juga telah diperkenalkan dan dipraktikkan dalam kegiatan. Sementara itu, rancangan program pemeliharaan dan pembagian zona masih berada pada tahap awal dan akan difinalisasi bersama pihak sekolah. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta mulai diarahkan untuk menghasilkan perangkat yang dapat digunakan dalam pengelolaan lingkungan sekolah

Menjadikan Lingkungan sebagai Bagian dari Pendidikan Karakter

Pemeliharaan lingkungan sekolah pada akhirnya bukan sekadar persoalan kebersihan fisik. Ketika warga sekolah terbiasa menjaga kelas, merawat fasilitas, membuang sampah pada tempatnya, melaksanakan piket, memantau lingkungan, dan menindaklanjuti masalah yang ditemukan, pada saat yang sama mereka sedang membangun budaya disiplin dan tanggung jawab.

Kegiatan pengabdian di SMP Negeri 93 Jakarta menunjukkan bahwa budaya sekolah yang bersih, indah, tertib, dan nyaman dapat dibangun melalui langkah yang sederhana tetapi sistematis: mengenali masalah, membagi zona, menetapkan tanggung jawab, menentukan indikator, melakukan monitoring, dan menindaklanjuti hasilnya. Melalui keberlanjutan program tersebut, lingkungan sekolah diharapkan tidak hanya terlihat bersih pada saat tertentu, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari seluruh warga sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi lingkungan belajar yang semakin nyaman sekaligus ruang pembentukan karakter bagi peserta didik.